Friday, August 14, 2009

10 PANDUAN MENGISI RAMADHAN ANAK

Begitu cepat waktu berlalu, alhamdulillah, dalam seminggu lagi kita akan menginjakkan kaki ke bulan Ramadhan. Kat luar sana mungkin dah ramai yang buat persiapan, maksud ana, persiapan menyambut raya, bukannya persiapan menyambut Ramadhan. Namun begitu, melatih anak-anak berpuasa semenjak awal lagi perlu diberi keutamaan oleh kita sebagai kedua ibubapa. Berikut ini ada beberapa panduan yang ana rasa berguna buat kita bagi melatih anak-anak berpuasa. Semoga kita semua diberikan kesabaran dalam melatih anak-anak kecil dan berdoalah agar usaha kita mendapat imbalan yang sebaiknya dari Allah SWT.

Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu rukun dalam Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi satu kewajiban kepada semua ibubapa. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Ramadhan): “…dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Bukhari Muslim).
Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan :

1. Melakukan pengisian tentang menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.

2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasihati Abdullah bin Mas’ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri dan tidak mencuka. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada keadaan rumah, sehingga anak semakin menyedari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan mendorong mereka untuk berpuasa. Di buat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang oleh anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peranan dari masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, sekolah, pusat membeli-belah, media massa dan lain-lain.

3. Mengatur waktu tidur anak-anak sehingga akan mudah bangun saat bersahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.

4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan di tepi jalan.

5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan mudah terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainnya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan kerana puasanya.

6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.

7. Dorongan untuk meraih pahala dan syurga dari Allah. Jadi hadiah berbentuk material diatas tak menutupi dorongan ganjaran Allah. “Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa”. Anak akan senang kerana sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.

8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirehat/tidur di siang hari (afternoon nap), mahupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada sekolah Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau ibubapa dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, kerana Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Atau mungkin ibubapa dapat pula membacakan kisah-kisah tauladan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.

9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti solat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyemak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka menghantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, sedekah dan lainnya.

10. Khusus untuk ibubapa, sekiranya mereka mengambil sikap sambil lewa tentang pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksima mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak awal lagi. Dengan perhatian yang konsisten dan cara-cara yang bijak, nescaya dapat memupuk kesedaran anak-anak untuk berpuasa. Kesedaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para ibubapa yang telah mendidik mereka.

Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Ramadhan akan turun ke setiap keluarga muslim.Insyallah.





No comments:

Post a Comment